Minggu kemarin, gw dan Natia lagi sebel banget sama orang2 berseragam. Di pertengahan Juni kemarin untuk mengantisipasi Natia yang masuk kuliah lagi, kita sepakat untuk mencari perawat untuk menjaga Najla dari pagi sampai sore sampai Natia pulang kuliah untuk senin - jumat (kita ngga terlalu suka Babysitter yg full day jadi memilih perawat) dan merasa cocok banget dengan seorang perawat dari RSAL Mintohardjo, yang kebetulan memang tugasnya di ruang bayi Rumah Sakit sehingga sangat berpengalaman. Umurnya masih muda sehingga lebih enak kalau kita minta begini begitu (dibandingkan perawat senior), orangnya telaten dan sabar, tinggal di Asrama (jadi ngga repot kalau datang pagi2, soalnya dekat banget), dan jadwal kerjanya sore sampai malam (tidak mengganggu jadwal kerjanya dia).
Dua minggu dia mengurusi Najla dan kita sudah sangat senang, karena dia sudah sangat tahu keinginannya si bayi dan kelihatan sangat tenang kalau ada apa2 (satu hal yang sangat mendasar dari perawat bayi yang baik adalah bisa tetap tenang walau si bayi nangis menggelegar seperti apapaun, bukannya jadi panik). Hingga hari itu tiba ....
Perawat ini dihubungi untuk menghadap ke pimpinan tertinggi AL (well you know), untuk diminta menjadi perawat bayi bagi cucu nya. Sebelumnya perawat ini memang bercerita bahwa teman nya sebelumnya sudah pernah diminta menghadap juga, hanya berhubung yang bertemu saat itu "hanya" anak nya atau orang tua si bayi, perawat yg datang menolak tawaran tersebut. Pada saat perawat gw menghadap, yang mewancarai adalah sang nenek dan sepertinya langsung merasa cocok dengan perawat gw ini dan memintanya langsung bekerja. Dia diminta bekerja penuh selama 24 jam 7 hari seminggu hingga 5 tahun kedepan (hingga masa kepala staf bertugas selesai) dan tinggal di rumah si bayi ini, tapi tetap diperkenankan untuk pergi2 atau cuti.
Gw dan Natia sebenarnya tidak mempermasalahkan dia pindah karena ditugaskan atau mempermasalahkan keinginan Kepala Staf dan Istrinya (hal yang amat sangat wajar menurut gw bahwa seorang orangtua atau eyang menginginkan yang terbaik untuk anak/cucu nya), hanya yang kita ngga suka itu: 1. Semua perawat yang diminta menghadap itu adalah Perawat Honorer (bukan pegawai tetap), dan tidak ada perawat tetap RSAL yang diminta menghadap. Iming2 yang diberikan bahwa, pimpinannya memberi janji bahwa perawat gw ini akan diangkat menjadi pegawai tetap / PNS bila menyanggupi tugas ini. Tentu agar pimpinannya ini mendapat nama yang baik di mata Kepala Staf ini bila perawat yang nanti bertugas bekerja dengan baik. Janji yang kemudian kita ketahui dari bicara dengan pimpinannya itu hanya sebatas "lihat saja nanti". Gw sangat memahami mengapa perawat gw ini langsung menyanggupi (Gw tidak tau apa dia sendiri akan suka dengan pekerjaannya itu, yang jelas waktu kerjanya lebih panjang dan dibayar lebih rendah), menjadi PNS merupakan impian dia. Seperti halnya seseorang yang memiliki suatu impian begitu besar, dan ada yang datang menyodori impian itu begitu saja. Gw hanya tidak ingin karena dia pegawai honorer, dipermainkan begitu saja diberi janji2 yang kemudian setelah manis sepah dibuang. 2. Pimpinan itu saat meminta perawat gw menghadap menelpon pada pagi hari dan dia tahu persis saat itu perawat gw sedang di rumah gw. Dia tidak menelpon langsung ke Handphone si perawat, tidak .. itu kurang menunjukkan kekuasaan, dia menelpon ke rumah gw langsung, meminta tuan rumah untuk memanggil si perawat, dan meminta menghadap saat itu juga. dan 3. Ternyata si bayi ini sudah punya tiga baby sitter. Dengan perawat gw ini berarti dia punya empat orang yang menungguinya 24x7. Buat orang yang punya kelebihan materi sih itu merupakan hak dia, tapi mbok jangan merugikan orang lain (bukan suatu hal yang mendesak terhadap perawat ini).
Well, peristiwa itu sudah berlalu. Kita juga akhirnya juga sudah dapat perawat baru (mudah2an bisa sebaik yang dulu). Hanya kadang gw ngga mengerti masalah basa basi dari pimpinan itu ke perawat gw. Gimana perasaan si perawat kalau setelah 5 tahun janjinya tidak dipenuhi. Yah mudah2an itu bukan sekedar lip service belaka.
Bicara tentang lip service, sejak gw mulai berhubungan dengan Natia, dia yang palig rajin mengingatkan gw tentang lip service ini (salah satu bukti bahwa dia membuat gw lebih baik :)). Kadang lip service itu sekedar basa basi yang kita lakukan sembari lewat karena tidak enak terhadap seseorang/sesuatu atau alasan untuk mencapai sesuatu, tapi malah membawa akibat yang lebih besar. Contoh kita bertemu dengan seseorang, dan sebagai basa basi menjanjikan sesuatu, janji ketemu, memperkenalkan kepada seseorang dll yang sebenarnya pada saat itu kita lakukan hanya untuk "breaking the ice" percakapan atau karena faktor "enak - tidak enak", yang malah mengecewakan pihak lain tersebut. Sudah jamak bahwa yang orang yang Dijanjikan sesuatu akan jauh lebih ingat dari pada dia Menjanjikan sesuatu.
Gw sudah beberapa kali mengalami dengan beberapa teman. Niat mereka sesungguhnya tidak jahat, just being nice mungkin kata yang tepat (kebiasaan orang melayu sepertinya yah). Masalahnya kadang hal seperti ini untuk urusan yang besar atau terjadi berulang2, secara dibawah sadar akan menyebabkan kita jadi kurang percaya terhadap orang tersebut. Sesuatu yang sebenarnya ngga perlu terjadi. Oleh karena itu gw sebisa mungkin mengingatkan ke teman2 gw yang melakukan hal tersebut. Bagaimana bila kita melakukan itu kepada orang lain, hingga dia kehilangan kepercayaan kepada kita padahal (mungkin) dia jalan kita menuju (misal) pekerjaan yang lebih baik, jodoh, kesempatan bisnis dll. Bagaimana di Bisnis? terutama di kalangan tertentu, perjanjian verbal itu sudah bisa menjadi kontrak bermeterai.
Andrew Matthews dalam bukunya Being Happy mengatakan bahwa sifat dasar manusia untuk selalu melihat diri nya benar (Irina Dewi pada suatu siaran memberikan analogi yang menurut gw sangat menarik, pada saat kita menyetir mobil itu ngga ada yang paling benar selain kita. Kalau ada mobil yang kecepatan dibilang "Gila tuh orang ngebut2" atau "Mau nabrak kali yah" dll n kalau kelambatan dibilang "Dasar kura2" atau "Gas nya ditekan donk mbak!" dll. Yang paling pas yah kecepatan kita itu :)) sehingga dengan merubah sedikit pola tersebut dengan empati maka hidup akan lebih bahagia :) Jadi gw juga sekalian mohon maaf kl memang masih/pernah melakukan lip service selama ini, tolong diingatkan donk Janji yang masih menggantung itu (mohon kalau ada janji2 yang melibatkan uang diatas 100ribu diampuni saja yah hahaha